Momentum Milad ke 60, Ini Kata Wakil Bendahara ISARAH Sumut

0
74

RMN, Medan – Peringatan enam dekade Ikatan Sarjana Al Washliyah (ISARAH) merupakan momentum untuk meneguhkan kontribusi kaum sarjana bagi masyarakat. Tema peringatan ini menyatukan tiga landasan yang saling berkaitan: persaudaraan sebagai modal sosial, intelektualitas sebagai sumber pemecahan masalah, dan kolaborasi sebagai cara mengubah gagasan menjadi tindakan. Ketiganya diarahkan untuk mendukung pembangunan Sumatera Utara yang tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga memperluas manfaat, memperkuat ketahanan, dan menjaga keberlanjutan.

Apa makna 60 tahun ISARAH? Enam dekade bukan sekadar penanda usia organisasi, melainkan kesempatan untuk mengevaluasi perjalanan, mewariskan nilai, dan memperbarui agenda pengabdian. Refleksi atas sejarah menjadi berarti ketika menghasilkan tujuan dan program yang menjawab kebutuhan masyarakat sekarang. Karena itu, peringatan ini dapat menjadi titik temu antara pengalaman generasi terdahulu, kapasitas sarjana saat ini, dan aspirasi generasi muda.

Siapa yang berperan dalam mewujudkan pembangunan tersebut? Pemerintah memiliki mandat kebijakan dan pelayanan publik, sementara perguruan tinggi, organisasi kemasyarakatan, dunia usaha, komunitas, media, dan warga memiliki pengetahuan serta sumber daya yang dapat saling melengkapi. ISARAH dapat berperan sebagai penghubung antarpihak melalui jejaring keilmuan, advokasi berbasis bukti, pendidikan masyarakat, dan pengabdian yang berkelanjutan. Peran ini menuntut sikap terbuka, profesional, dan menghormati perbedaan.

Kapan momentum ini menjadi penting? Peringatan 60 tahun pada 2026—yang menandai perjalanan sejak 1966—berlangsung ketika masyarakat menghadapi transformasi digital, perubahan kebutuhan keterampilan, tekanan terhadap lingkungan, dan tuntutan tata kelola yang semakin responsif. Perubahan tersebut membawa peluang sekaligus risiko, sehingga pengalaman organisasi perlu dipadukan dengan pembaruan pengetahuan. Momentum peringatan dapat digunakan untuk merumuskan langkah jangka panjang, bukan hanya menyelenggarakan kegiatan seremonial.

Di mana kontribusi ISARAH perlu diwujudkan? Ruang pengabdian utamanya adalah Sumatera Utara, wilayah dengan keragaman budaya, kondisi geografis, sumber daya, dan kebutuhan pembangunan antardaerah. Karena satu pendekatan belum tentu sesuai untuk semua komunitas, program perlu disusun berdasarkan pemetaan masalah dan potensi lokal. Kajian Olphin et al. (2024) menunjukkan bahwa kolaborasi untuk pembangunan regional perlu mempertimbangkan konteks tempat serta nilai yang dihasilkan bagi masyarakat setempat.

Mengapa persaudaraan perlu dirawat? Rasa saling percaya, kepedulian, dan solidaritas membantu masyarakat bekerja bersama menghadapi masalah yang tidak dapat diselesaikan secara individual. Persaudaraan yang relevan bagi pembangunan tidak terbatas pada ikatan internal organisasi, tetapi mendorong hubungan yang inklusif dan penghormatan terhadap keberagaman. Nilai tersebut sejalan dengan SDG 16 tentang masyarakat damai, inklusif, dan berkeadilan, serta SDG 10 tentang pengurangan ketimpangan. Agenda 2030 juga menekankan pentingnya solidaritas dan keterlibatan berbagai kelompok dalam mencapai tujuan bersama.

Mengapa intelektualitas perlu diperkuat? Persoalan publik yang semakin kompleks membutuhkan kemampuan berpikir kritis, memilah informasi, memahami data, dan menyusun solusi berdasarkan bukti. Intelektualitas tidak berhenti pada gelar akademik atau penguasaan teori; ia juga mencakup integritas, kepekaan sosial, dan tanggung jawab untuk menggunakan pengetahuan demi kepentingan masyarakat. Penelitian Pedro et al. (2020) mengaitkan modal intelektual perguruan tinggi dengan praktik pembangunan berkelanjutan dan kualitas hidup para pemangku kepentingannya.

Bagaimana pengetahuan dapat menghasilkan dampak nyata? Sarjana dapat menghubungkan hasil penelitian dengan persoalan lokal, menyampaikan temuan secara mudah dipahami, dan mendampingi masyarakat dalam mengembangkan kapasitasnya. Perguruan tinggi dan organisasi profesi dapat memperluas literasi digital, pembelajaran sepanjang hayat, pendidikan kewargaan, serta keterampilan yang mendukung kehidupan dan pekerjaan. Studi Purbasari et al. (2025) pada perguruan tinggi di Indonesia menunjukkan bahwa pembelajaran sosial kolaboratif berbasis komunitas berpotensi meningkatkan kemampuan adaptasi mahasiswa; temuan tersebut memberi contoh bagaimana pembelajaran dapat dikaitkan dengan kebutuhan sosial dan konteks lokal.

Mengapa kolaborasi menjadi kunci? Masalah pembangunan kerap melintasi sektor, wilayah, dan disiplin ilmu, sehingga satu lembaga saja tidak memiliki seluruh keahlian atau sumber daya yang dibutuhkan. Kolaborasi memungkinkan pemerintah, akademisi, organisasi masyarakat, dunia usaha, dan komunitas menyusun solusi bersama serta membagi peran secara jelas. Tinjauan Olphin et al. (2024) terhadap 131 artikel menekankan pentingnya menilai kontribusi kolaborasi perguruan tinggi dan dunia usaha terhadap pembangunan regional, termasuk manfaatnya bagi wilayah dan masyarakat tertentu.

Apa hubungan tema ini dengan SDGs? Tema ISARAH memiliki hubungan substantif dengan SDG 4 tentang pendidikan berkualitas, SDG 10 tentang pengurangan ketimpangan, SDG 16 tentang masyarakat damai dan kelembagaan yang inklusif, serta SDG 17 tentang kemitraan. Hubungan ini dapat diwujudkan melalui pendidikan dan penguatan kapasitas, perluasan partisipasi, tata kelola yang akuntabel, serta kerja bersama lintas pihak. Agenda 2030 menyatakan bahwa kemitraan yang melibatkan pemerintah, masyarakat sipil, sektor swasta, dan komunitas ilmiah merupakan bagian penting dari pelaksanaan SDGs.

Bagaimana prinsip inklusivitas diterapkan? Masyarakat perlu memperoleh kesempatan yang setara untuk menyampaikan kebutuhan, mengakses program, dan ikut memengaruhi keputusan yang berdampak pada kehidupannya. Karena itu, perencanaan perlu memperhatikan pengalaman perempuan, generasi muda, penyandang disabilitas, kelompok rentan, masyarakat desa, serta komunitas yang menghadapi keterbatasan akses. Sucipto et al. (2024), dalam kajian pendidikan masyarakat di Indonesia, menekankan penguatan kompetensi fasilitator, pelibatan aktif warga, komunikasi terstruktur, dan kerja sama dengan pemerintah lokal untuk mendukung pencapaian SDGs.

Bagaimana Sumatera Utara dapat menjadi lebih tangguh? Ketangguhan mencakup kemampuan masyarakat dan lembaga untuk mengantisipasi risiko, mengurangi kerentanan, menjaga penghidupan, dan pulih setelah menghadapi tekanan. Upaya tersebut memerlukan layanan dasar yang dapat diakses, informasi risiko, penguatan ekonomi masyarakat, perlindungan lingkungan, dan koordinasi antarlembaga. Penelitian Pontoh et al. (2024) mengenai kesejahteraan komunitas dan ketahanan ekonomi terhadap cuaca ekstrem di Indonesia memperlihatkan pentingnya membaca ketahanan sosial dan ekonomi secara terpadu dengan konteks risiko lingkungan.

Apa kaitannya dengan Asta Cita? Tema ISARAH dapat diselaraskan secara substantif dengan arah pembangunan nasional dalam Asta Cita yang dijabarkan melalui prioritas RPJMN 2025–2029. Penguatan persaudaraan mendukung kehidupan demokratis dan masyarakat yang harmonis; penguatan intelektualitas berkontribusi pada pengembangan sumber daya manusia dan ilmu pengetahuan; sedangkan kolaborasi dapat mendukung ekonomi, pelayanan, dan pembangunan wilayah. RPJMN juga memuat transformasi sosial, ekonomi, tata kelola, ketahanan sosial-budaya dan ekologi, serta pembangunan wilayah. Keselarasan ini menempatkan ISARAH sebagai salah satu unsur masyarakat sipil yang dapat berkontribusi melalui keahlian dan pengabdian, tanpa mengambil alih mandat pemerintah.

Bagaimana peran ISARAH diwujudkan secara konkret? Organisasi dapat menyelenggarakan forum kajian kebijakan, pengabdian lintas disiplin, pendampingan komunitas, program literasi, dan kemitraan dengan perguruan tinggi serta pemerintah daerah. Setiap kegiatan sebaiknya diawali dengan pemetaan kebutuhan, melibatkan masyarakat dalam perencanaan, dan menetapkan pembagian tugas yang terukur. Dengan demikian, keahlian sarjana dapat bertemu dengan pengalaman warga dan kapasitas lembaga pelaksana, sehingga program lebih relevan dan berpeluang berlanjut.

Bagaimana keberhasilan kolaborasi diukur? Penilaian tidak cukup bertumpu pada jumlah kegiatan atau peserta, tetapi perlu mencakup kualitas partisipasi, akses kelompok sasaran, perubahan kapasitas, manfaat sosial-ekonomi, dan keberlanjutan program. Indikator serta hasil evaluasi perlu disampaikan secara terbuka agar dapat ditinjau bersama oleh organisasi, mitra, dan masyarakat. Dengan cara ini, evaluasi menjadi sarana pembelajaran dan perbaikan, sekaligus menjaga akuntabilitas terhadap sumber daya yang digunakan.

Pada akhirnya, makna 60 tahun ISARAH terletak pada kemampuan mengubah persaudaraan menjadi solidaritas yang inklusif, intelektualitas menjadi solusi berbasis bukti, dan kolaborasi menjadi tindakan yang dirasakan masyarakat. Sarjana dapat berperan sebagai penghubung antara pengetahuan, kebijakan, dan kebutuhan lokal. Melalui program yang adaptif, terukur, dan berpihak pada kepentingan publik, ISARAH dapat turut menggerakkan pembangunan Sumatera Utara yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan.(*/MR)